Senin, 11 April 2016

KEBUDAYAAN

Kebudayaan Suku Dayak dari Kalimantan Timur






Suku Dayak


             Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

             Berangkat dari masa lalu, banyak masyarakat Dayak yang masih dalam garis ekonomi bawah. Terutama pada area perbatasan antara negara tetangga, sangat tertinggal dengan kondisi yang memprihatinkan, jauh dari peradaban yang ramai, jauh dari perdagangan jual beli sembako, dan keperluan keluarga lainnya.

             Pada tahun (1977-1978) benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian Nusantara yang masih menyatu, memungkinkan ras mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam, ditambah kedatangan orang-orang Bugis, Makasar dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
             Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). 
             Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).
            Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar.

Bahasa Suku Dayak

            Bahasa-bahasa daerah di Kalimantan Timur merupakan bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polynesia, diantaranya adalah Bahasa Tidung, Bahasa Banjar, Bahasa Berau dan Bahasa Kutai. Bahasa lainnya adalah Bahasa Lundayeh.

Sistem Kepercayaan Suku Dayak

            Animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia secara umum. Bagi orang Dayak alam semesta dan semua makhluk hidup mempunyai roh dan perasaan sama seperti manusia, kecuali soal akal.
            Oleh sebab itu bagi Suku Dayak segenap alam semesta termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan harus diperlakukan sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka percaya perbuatan semena-mena dan tidak terpuji akan dapat menimbulkan malapetaka. Itu sebabnya selain sikap hormat, mereka berusaha mengelola alam semesta dengan se-arif dan se-bijaksana mungkin.
            Meskipun sepintas kepercayaan orang Dayak seperti polytheisme, tetapi mereka percaya bahwa alam semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa tunggal yaitu Letalla. Letalla mendelegasikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan bidang-bidang tertentu, kepada para Seniang, Nayuq dan lain-lain. Seniang memberikan pembimbingan, sedangkan Nayuq akan mengeksekusi akibat pelanggaran terhadap adat dan norma.
            Seiring berjalan waktu, kini beberapa orang yang berasal dari suku Dayak banyak yang sudah memeluk agama antara lain islam, kristen katolik, kristen protestan dan konghucu.


Seni Suara Suku Dayak

1.      Nyanyian Kandan
            Berasal dari suku Dayak Siang atau Murung. Boleh dilakukan oleh pria dan wanita secara bergantian dan saling bersahutan dalam suatu pesta atau pertemuan yang diadakan untuk menghormati  seorang pejabat atau pimpinan pemerintah dan lagu-lagu pujian serta doa rakyat kepada pemimpinnya. Biasanya acara disertai jamuan makan.
2.      Nyanyian Salengot
            Biasanya dinyanyikan oleh pria dalam suatu pesta perkawinan tapi dilarang ditampilkan saat upacara kematian.
3.      Nyanyian Dadeo dan Ngaloak
            Ditemukan oleh suku Dayak Dusun Tengah dan dilakukan pada saat perkawinan ataupun pesta lain yang dihadiri oleh masyarakat dan pejabat kampung.
4.      Nyanyian Setangis
            Dilakukan oleh pria dan wanita pada suatu upacara kematian. Tema lagu menceritakan riwayat hidup orang yang meninggal
5.      Nyanyian Riwut Andau
            Berasal dari Kuala Kapuas (Kota Bataguh). Tema nyanyian memperingati rapat besar berdirinya kota Bataguh.



Seni Berpantun Suku Dayak
1.      Perentangin
2.      Ngelengot
3.      Ngakey
4.      Ngeloak




Alat Musik Tradisional Suku Dayak

Alat Musik
Keterangan
Gendang
Ada beberapa jenis Gendang yang dikenal oleh suku Dayak Tunjung:
Prahi
Gimar
Tuukng Tuat
Pampong
Genikng
Sebuah gong besar yang juga digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan) seperti halnya gong di     Jawa.
Gong
Sama seperti gong di Jawa, dengan diameter 50-60 cm
Glunikng
Sejenis alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat dari kayu ulin. Mirip alat musik saron di Jawa.
Jatung Tutup
Gendang besar dengan ukuran panjang 3 m dan diameter 50 cm
Jatung Utang
Sejenis alat musik pukul dari kayu yang berbentuk gambang. Memiliki 12 kunci, tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan dengan kedua belah tangan.
Kadire
Alat musik tiup yang terbuat dari pelepah batang pisang dan memiliki 5 buah pipa bambu yang dibunyikan dengan mempermainkan udara pada rongga mulut untuk menghasilkan suara dengung.
Klentangan
Alat musik pukul yang terdiri dari enam buah gong kecil tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat dudukan berbentuk semacam kotak persegi panjang (rancak). Bentuk alat musik ini mirip denganbonang di Jawa. Gong-gong kecil terbuat dari logam sedangkan tempat dudukannya terbuat dari kayu.
Sampe
Sejenis gitar atau alat musik petik dengan dawai berjumlah 3 atau 4. Biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak.
Suliikng
Alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis suliikng:
Bangsi / Serunai
Suliikng Dewa
Kelaii
Tompong
Taraai
Sebuah gong kecil yang digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu yang agak lunak.
Uding (Uring)
Sebuah kecapi yang terbuat dari bambu atau batang kelapa. Alat musik ini dikenal juga sebagai Genggong (Bali) atau Karinding (Jawa Barat).


Rumah Adat Suku Dayak :
  1.  Lamin


            Warga Dayak dimasa lalu dengan yang sekarang banyak sekali yang terjadi, dimasa lalu orang-orang Dayak tinggal dengan hidup berpindah-pindah dan membuat sebuah pemukiman/ daerah kekuasaan masing-masing.
            Dengan sekelompok orang, 20-50 orang sudah bisa membuat pemukiman dan tempat tinggal yang apik. Rumah/ tempat tinggal yang dibuat sesuai dengan kebutuhan/ jumlah orang, yang sering kita jumpai masyarakat Dayak menyebutnya Lamin atau Rumah Panjang.

            Lamin sendiri dibuat untuk memfasilitasi beberapa orang yang hendak membuat pemukiman disalah satu daerah. Lamin didesain tinggi, memakai tiang yang cukup tinggi dari permukaan tanah. 4-8 meter dari permukaan tanah sudah sangat bagus, mengingat kalimantan didominasi oleh rawa dan sungai Mahakam yang panjang, maka masyarakat Dayak didaerah pesisir selalu mendesain Rumah Panjang ini tinggi.


Lamin/Rumah Panjang dimasa lalu

Lamin/Rumah Panjang dimasa sekarang

Dilihat secara kasat mata, Lamin/ Rumah Panjang tersebut dibuat tinggi, dengan alasan :

1    1.    Menghindari dari serangan binatang buas, karena berada didalam kawasan hutan.
2    2.    Menghindari dari serangan musuh (sekelompok orang yang ingin menguasai tempatmereka).
3    3.   Sebagai tempat dimana menyimpan kayu bakar dan tempat memelihara binatang, seperti babi dll.

            Lamin sendiri dibuat dengan ukuran ± 8 x 20-30 meter. Mengingat banyak warga yang tinggal didalam Lamin tersebut, maka dibuatlah sesuai dengan kapasitas yang ada. Interior dari Lamin/ Rumah Panjang tidaklah rumit, hanya membentuk lost/ menyerupai selasar panjang, karena tidak berkamar/ skat. Masing-masing penghuni tidur/ tinggal didalam Lamin dapat istirahat bersama-sama didalam Lamin, dan melakukan aktifitas sehari-hari didalam Lamin dan itu sudah menjadi kebiasaan tidak menggangu penghuni yang lainnya. Gotong royong yang selalu mereka lakukan demi kebersihan dan kegiatan mereka bersama.

Interior Lamin/Rumah Panjang dimasa lalu

Interior Lamin/Rumah Panjang dimasa sekarang

Upacara Adat

1.      Upacara Pengobatan
2.      Upacara Tolak Bala
3.      Upacara Pernikahan
4.      Upacara Membuang Bangkai
5.      Upacara Sebelum Menanam

Seni Tari Suku Dayak

1.    Tari Gantar
            Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
2.    Tari Kancet Papatai atau Tari Perang
            Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh teriakan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.
3.    Tari Kancet Ledo atau Tari Gong
            Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
4.    Tari Kancet Lasan
            Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang.
5.      Tari Leleng
            Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.
Sistem Pernikahan Suku Dayak

            Dahulu orang Dayak umumnya tidak mengenal istilah berpacaran sebelum memasuki jenjang perkawinan seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, saat itu hanya dikenal istilah batunangan, yaitu, ikatan kesepakatan dari kedua orang tua masing-masing untuk mencalonkan kedua anak mereka kelak sebagai suami istri. Proses batunangan ini dilakukan sejak masih kecil, namun umumnya dilakukan setelah akil balig. Hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua atau kerabat terdekat saja. Pelaksanaan upacara perkawinan memakan waktu dan proses yang lama. Hal ini dikarenakan harus melalui berbagai prosesi, antara lain :
1.      Basasuluh
            Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan.
2.      Batatakun atau Melamar
            Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis.
3.      Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.
            Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki.
4.      Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.
            Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga.
5.      Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
            Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a.  Bapingit dan Bakasai.
            Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit). Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimung.
            Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimung. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi.
c. Badudus atau Bapapai.
            Mandi Badudus atau bapapai adalah uapacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasa dan juga merupakan sebagai penghalat atau penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu sore atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
            Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.

Senjata Tradisional Suku Dayak

1.      Sipet atau Sumpitan
            Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.
2.      Lonjo atau Tombak
            Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.
3.      Telawang atau Perisai
            Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4.      Mandau
            Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas atau perak atau tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
5.      Dohong
            Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.

Tradisi Penguburan

            Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer - tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalu Upacara/Ritual Kwangkay. Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan 
1. penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat
2. penguburan di dalam peti batu (dolmen)
3.penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Kaitan Psikologi Lintas Budaya dengan Kepribadian dan Moral
            Keunikan alam Kalimantan Timur, masyarakat dan budaya yang terikat dalam nilai-nilai adat. Kekentalan adat istiadat dalam budaya di suku Dayak mempengaruhi pola kehidupan. Masyarakat menjaga nilai-nilai dan norma-norma untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia juga dengan alam. Keunikan ini juga secara otomatis membentuk kepribadian yang unik, salah satunya yaitu nuansa mistik. Nuansa mistik juga ditemukan pada acara adat dan ritual budaya.


  Sumber :  http://mramadhanty.blogspot.co.id/2012/01/tugas-softskill-lintas-budaya-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar